Sistem Ujian Baru Diterapkan, FK Unisma Tetap Buktikan Kualitas dengan Kelulusan 95 Persen di Ba’iat Dokter Muslim Periode XLV
Reporter
Anggara Sudiongko
Editor
Nurlayla Ratri
28 - Apr - 2026, 06:10
JATIMTIMES - 22 dokter baru resmi dikukuhkan dalam prosesi Ba’iat Dokter Muslim Periode XLV Fakultas Kedokteran Universitas Islam Malang (FK Unisma) di Aula Abdurrahman Wahid, Gedung Pascasarjana belum lama ini. Di tengah perubahan sistem ujian nasional dan kenaikan standar kelulusan, capaian ini menegaskan konsistensi FK Unisma dalam menjaga kualitas lulusan di tingkat nasional.
Dari total 24 peserta yang mengikuti Uji Kompetensi Nasional Peserta Didik Profesi Dokter (UKN PDPDP), sebanyak 22 orang dinyatakan lulus. Angka ini setara dengan tingkat kelulusan 95,4 persen untuk peserta first taker. Sementara itu, dari tiga peserta retaker, dua orang berhasil lulus dengan persentase 67 persen. Hingga periode ini, FK Unisma mencatat hanya memiliki dua retaker aktif, angka yang disebut sebagai salah satu yang terendah secara nasional.

Dekan FK Unisma, dr. Rahma Triliana, M.Kes., Ph.D., menuturkan bahwa capaian tersebut tidak diraih dengan mudah. Para mahasiswa harus menghadapi perubahan sistem ujian dalam waktu singkat, bahkan hanya dalam hitungan dua hari sebelum pelaksanaan. Selain itu, mereka juga menjalani ujian OSCE selama 3,5 jam dalam kondisi berpuasa tanpa kepastian jadwal sesi hingga hari pelaksanaan.
Baca Juga : Revitalisasi Pasar Tembok Dukuh, 189 Stan Disiapkan Lebih Tertata dan Nyaman
“Ini cerita perjuangan yang tidak sederhana. Mereka harus beradaptasi dengan sistem baru yang berubah dalam waktu 2x24 jam. Bahkan saat ujian (Objective Structured Clinical Examination (OSCE), mereka menjalani 3,5 jam dalam kondisi puasa dan baru tahu jadwalnya di hari yang sama,” ujar Rahma.

Perubahan skema ujian dari sebelumnya dikenal sebagai UKMPPD menjadi UKN PDPDP juga diikuti dengan kenaikan nilai batas lulus. Jika sebelumnya berada di kisaran 64 hingga 65, kini meningkat menjadi 66,18. Meski demikian, FK Unisma tetap mampu menjaga performa. Bahkan, empat mahasiswa berhasil menembus nilai di atas 90, dengan skor tertinggi mencapai 94 atas nama Rina Rosanti.
“Empat mahasiswa kami tembus di atas 90. Nilai tertinggi 94, ini menunjukkan kualitas yang sangat baik. Harapan kami ke depan bisa lebih tinggi lagi, bahkan kalau mungkin mendekati sempurna,” katanya.

Rahma juga menekankan bahwa capaian ini sekaligus menjadi tolok ukur baru bagi mahasiswa angkatan berikutnya. Standar yang semakin tinggi diharapkan mampu mendorong budaya akademik yang lebih kompetitif dan berorientasi pada kualitas.
Di balik angka-angka tersebut, terdapat kisah perjuangan personal yang menguatkan makna prosesi ba’iat. Salah satunya adalah dr. Ulil Albab, mahasiswa yatim piatu penerima beasiswa Ar-Razi FK Unisma. Dalam prosesi tersebut, jas dokter disematkan oleh pengurus lembaga yang selama ini menjadi keluarga baginya. Usai dilantik, Ulil akan mengabdi selama tiga tahun di Pondok Pesantren Arozzi.
Tak hanya itu, Ulil juga mencatatkan prestasi akademik dengan meraih gelar ganda. Ia menyelesaikan pendidikan Magister Hukum Kesehatan (MHKS) bersamaan dengan profesi dokter. Capaian serupa juga diraih dr. Adillah yang lulus dengan gelar Magister Manajemen Rumah Sakit (MMRS). Program double degree ini menjadi salah satu keunggulan FK Unisma, di mana mahasiswa dapat menempuh pendidikan S2 secara paralel selama masa koas.
“Mahasiswa bisa menyelesaikan S2 dalam empat semester atau sekitar dua tahun. Jadi saat lulus, mereka sudah menyandang dua gelar sekaligus,” jelas Rahma.
Meski mencatatkan hasil positif, FK Unisma tetap melakukan evaluasi, terutama terkait kesiapan mahasiswa menghadapi ujian nasional yang dinilai semakin dinamis. Ke depan, fakultas akan menerapkan seleksi lebih ketat sebelum mengirimkan peserta ujian, guna memastikan kesiapan akademik dan mental.

Rektor Unisma, Prof. Drs. Junaidi Mistar, Ph.D., dalam sambutannya menegaskan bahwa keberhasilan para dokter baru merupakan hasil kolaborasi banyak pihak, mulai dari mahasiswa, orang tua, hingga institusi pendidikan.
Baca Juga : Sidang Ditunda Sepihak, PBH Peradi Malang Kritik Profesionalitas Sidang Kode Etik Advokat
“Perjuangan ini tidak hanya milik kalian, tetapi juga orang tua yang selalu mendoakan dan mendukung. Institusi juga telah membekali kalian selama lima hingga enam tahun dengan ilmu dan karakter sebagai dokter muslim,” ujarnya.
Ia mengingatkan bahwa gelar dokter bukan sekadar pencapaian akademik, melainkan amanah yang harus dijalankan dengan penuh tanggung jawab.
“Amanah ini bukan hanya dari negara atau orang tua, tetapi juga dari Allah SWT. Oleh karena itu, lakukan yang terbaik di setiap langkah pengabdian kalian,” tegasnya.
Dalam kesempatan tersebut, Rahma juga menyampaikan pesan penting kepada para lulusan untuk menjaga tiga hal utama dalam perjalanan karier mereka, yakni nama baik diri sendiri, nama baik orang tua, dan nama baik institusi.
“Jagalah nama kalian, karena di dalamnya ada doa orang tua. Jagalah nama orang tua yang telah mengorbankan segalanya untuk kalian. Dan jagalah nama baik FK Unisma di mana pun kalian berada,” pesannya.
Prosesi ba’iat ini sekaligus menjadi penanda bahwa pendidikan para mahasiswa angkatan 2018 dan 2019 telah dituntaskan. Fakultas secara resmi mengembalikan para dokter baru kepada keluarga, dengan harapan mereka mampu memberikan kontribusi nyata bagi masyarakat.
Dengan capaian kelulusan tinggi, prestasi akademik yang kompetitif, serta penguatan karakter, FK Unisma menegaskan posisinya sebagai salah satu institusi pendidikan kedokteran yang adaptif di tengah perubahan sistem nasional yang terus berkembang.
