Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Nadiem Makarim dalam videonya. (Foto: Video Mendikbud/Ima MalangTIMES)
Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Nadiem Makarim dalam videonya. (Foto: Video Mendikbud/Ima MalangTIMES)

Program Organisasi Penggerak (POP) yang digagas oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) menuai polemik. Hal ini ditandai dengan mundurnya dua organisasi Islam terbesar di Tanah Air, Nahdlatul Ulama (NU) dan Muhammadiyah, yang kemudian diikuti Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) dari program tersebut.

Alasan mereka mundur karena proses seleksi POP yang dinilai tak sejalan dengan semangat perjuangan pendidikan. Timbul protes terhadap dua perusahaan besar yang turut ikut menerima bantuan itu, Tanoto Foundation dan Sampoerna Foundation, yang masuk ke dalam POP untuk kategori gajah atau dengan kata lain mendapatkan bantuan Rp 20 miliar per tahun dari pemerintah.

Baca Juga : Penampilan Rambut Pasha Ungu Kembali jadi Kontroversi, Kemendagri Buka Suara!

Atas polemik tersebut, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Nadiem Makarim menyampaikan permintaan maafnya.

"Dengan penuh rendah hati saya memohon maaf atas segala keprihatinan yang timbul," ucapnya dalam sebuah video berdurasi 2 menit 36 detik.

Ia menegaskan, Tanoto Foundation dan Putera Sampoerna Foundation tak akan menerima dana APBN sepeserpun.

"Kemdikbud telah menyepakati dengan Tanoto Foundation dan Putera Sampoerna Foundation bahwa partisipasi mereka dalam program Kemdikbud tidak akan menggunakan dana dari APBN sepeserpun. Mereka akan mendanai sendiri aktivitas programnya tanpa anggaran dari pemerintah," tegasnya.

Ia berharap kebijakan tersebut akan menjawab kecemasan masyarakat mengenai potensi konflik kepentingan dan isu kelayakan hibah yang sekarang dapat dialihkan kepada organisasi yang lebih membutuhkan.

Dalam video tersebut, pria yang akrab disapa Mas Menteri itu juga menyatakan apresiasi sebesar-besarnya atas masukan dari pihak NU, Muhammadiyah, dan PGRI mengenai Program Organisasi Penggerak.

Ia mengakui, ketiga organisasi tersebut telah berjasa di dunia pendidikan, bahkan jauh sebelum negara ini berdiri. Dikatakan, tanpa pergerakan mereka dari Sabang sampai Merauke, identitas budaya dan misi dunia pendidikan di Indonesia tidak akan terbentuk.

Dirinya berharap, NU, Muhammadiyah, dan PGRI tetap bersedia kembali dalam program tersebut.

Baca Juga : Soal Polemik POP, Presiden Jokowi Didesak Cari Pengganti Nadiem Makarim

"Saya berharap agar tokoh dan pimpinan NU, Muhammadiyah, dan PGRI bersedia untuk terus memberikan bimbingan dalam proses pelaksanaan program yang kami sadari betul masih belum sempurna," tuturnya.

Tanpa dukungan dan partisipasi semua pihak, lanjutnya, mimpi kita bersama untuk menciptakan pendidikan berkualitas untuk penerus bangsa akan sulit tercapai.

"Kami di Kemdikbud siap mendengar, siap belajar," ucapnya.

Di awal video Nadiem sempat menyatakan terima kasih atas semua saran dan masukan yang disampaikan berbagai pihak mengenai Program Organisasi Penggerak. Niat Kemendikbud sejak awal adalah untuk bermitra dengan para penggerak pendidikan dan menemukan inovasi inovasi yang bisa dipelajari oleh pemerintah serta diterapkan dalam skala nasional.

"Hanya satu misi program kami, mencari jurus dan pola terbaik untuk mendidik penerus negeri ini," tukasnya.