Ilustrasi. (Foto: iStock/Steve Debenport).
Ilustrasi. (Foto: iStock/Steve Debenport).

Dunia memperingati Hari Osteoporosis setiap tanggal 20 Oktober. Momen ini menjadi pengingat bagi masyarakat agar memperhatikan kesehatan tulang.

Bagi penderitanya, penyakit pengeroposan tulang ini cenderung berbahaya. Ditandai rendahnya massa tulang dan hilangnya jaringan tulang, penderita akan sangat rentan mengalami patah tulang sekalipun hanya mengalami cedera ringan.

Baca Juga : Kondisi Terbaru Tanda Pasien Covid-19 Kritis, Ada "Jelly" di Paru-Paru

Sehingga, ketika jatuh atau bahkan tekanan ringan seperti membungkuk atau batuk dapat menyebabkan patah tulang. Selain itu, aktivitas harian juga bisa terpengaruh.

Kabid Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Malang dr Husnul Muarif mengatakan osteoporosis menjadikan kepadatan tulang berkurang. Umumnya, banyak diderita oleh wanita.

"Osteoporosis itu adalah kepekatan, kepadatan tulang itu berkurang. Dari beberapa data, lebih banyak diderita oleh wanita daripada laki-laki," jelasnya.

Husnul menjelaskan, pada dasarnya banyak faktor yang menjadikan seorang mengalami osteoporosis. Salah satunya usia, semakin berusia lanjut akan mudah terserang osteoporosis.

"Jadi ada faktor predisposisi atau faktor yang mempercepat terjadinya osteoporosis. Pertama usia, jadi mereka-mereka yang sudah berusia 50 tahun ke atas itu rentan terpapar," imbuhnya.

Baca Juga : Perbaikan Data Kematian Masyarakat Kabupaten Malang, Dinkes Lakukan Otopsi Verbal

Faktor lainnya, lanjut Husnul, aktivitas atau gaya hidup yang belum menerapkan hidup sehat. Serta asupan kebutuhan kalsium yang kurang juga menjadi penyebab osteoporosis itu menyerang tubuh.

"Terkait aktivitas sehari-hari ini juga menjadi pemicu, olahraganya misalnya. Kemudian asupan kalsium yang kurang ini bisa menjadikan seorang itu osteoporosis," tandasnya.