JATIMTIMES - Seiring meningkatnya intensitas hujan dalam beberapa waktu terakhir, banjir menjadi suatu hal yang cukup diwaspadai oleh masyarakat. Sejumlah titik rawan pun menjadi perhatian, terutama yang berkaitan dengan sedimentasi sungai dan tersumbatnya aliran air.
Di tengah kondisi tersebut, Pemerintah Kota Malang menunjukkan respons cepat melalui percepatan program normalisasi sungai secara menyeluruh. Langkah ini dijalankan oleh Dinas Pekerjaan Umum, Penataan Ruang, Perumahan, dan Kawasan Permukiman (DPUPRPKP) Kota Malang sebagai bagian dari komitmen menjaga kenyamanan dan keselamatan lingkungan warga.
Baca Juga : Disparbud Kabupaten Malang Minta Pemprov Jatim Fasilitasi Pemecahan Masalah Polemik Coban Sewu
Kepala DPUPRPKP Kota Malang, Dandung Djulharjanto, menyampaikan bahwa upaya normalisasi sudah berlangsung intensif dalam dua pekan terakhir dan terus dikebut di sejumlah titik prioritas.
"Teman-teman (Satgas dari DPUPRPKP) sudah dua minggu ini terus melakukan pengerukan sedimentasi untuk mengantisipasi kejadian itu (banjir)," kata Dandung.
Salah satu lokasi yang menjadi fokus penanganan berada di kawasan Jalan Letjen Sutoyo. Berdasarkan hasil monitoring, area tersebut mengalami pendangkalan akibat penumpukan material yang terbawa aliran air. Kondisi ini dinilai berpotensi menghambat laju air dan meningkatkan risiko luapan saat hujan deras.
Tidak hanya melakukan pengerukan sedimentasi, petugas juga membersihkan tanaman liar yang menutup jalur aliran sungai. Penanganan ini dilakukan secara terpadu agar fungsi sungai kembali optimal dan mampu menampung debit air secara maksimal.
Upaya berkelanjutan juga terus dirancang. Setelah penanganan di Jalan Letjen Sutoyo, Pemkot Malang akan melanjutkan normalisasi di kawasan Mulyorejo yang turut masuk dalam peta prioritas.
Baca Juga : Dirut Tugu Tirta Raih PWI Jatim Award 2026 Berkat Transformasi Digital Layanan Publik
Di sisi lain, Pemkot Malang juga menggarisbawahi pentingnya peran masyarakat dalam menjaga kebersihan lingkungan. Pasalnya, salah satu penyebab utama tersumbatnya gorong-gorong berasal dari tumpukan sampah yang menghambat aliran air menuju sungai. Kondisi tersebut dapat memperlambat bahkan menghentikan aliran air. Dampaknya, ketika hujan deras turun, air berpotensi meluap ke jalan dan permukiman warga.
"Kalau dari segi dimensi saluran sudah mencukupi, tidak ada masalah. Makanya kami terus melakukan upaya, meski itu di kemarau maupun hujan, karena yang gorong-gorong menerima kiriman juga dari irigasi," tuturnya.
