Jatim Times Network Logo
Poling Pilkada 2024 Agama Ekonomi Gaya Hukum dan Kriminalitas Kesehatan Kuliner Olahraga Opini Otomotif Pemerintahan Pendidikan Peristiwa Politik Profil Ruang Mahasiswa Ruang Sastra Selebriti Tekno Transportasi Wisata
Poling Pilkada 2024
Peristiwa

Viral Buruh Perempuan India Angkat Rahim Demi Tetap Bekerja, Fakta di Baliknya Bikin Miris

Penulis : Mutmainah J - Editor : Sri Kurnia Mahiruni

13 - Jun - 2026, 17:23

Placeholder
Ilustrasi buruh wanita di India yang lakukan pengangkatan rahim demi tetap bekerja. (Foto screenshot)

JATIMTIMES - Fenomena mengejutkan yang terjadi di India tengah menjadi perbincangan di media sosial. Akun Instagram @luarbioskop membagikan sebuah video yang mengungkap kisah ribuan buruh perempuan pemotong tebu di Distrik Beed, Maharashtra, India, yang menjalani operasi pengangkatan rahim atau histerektomi demi tetap bisa bekerja tanpa terganggu menstruasi.

Dalam unggahan tersebut dijelaskan bahwa haid kerap dianggap menghambat produktivitas kerja para buruh selama musim panen tebu. Akibat tekanan ekonomi dan tuntutan pekerjaan yang tinggi, banyak pekerja perempuan memilih menjalani operasi pengangkatan rahim meski tidak selalu didasari alasan medis.

Baca Juga : Kapolsek Klojen Bantah Tuduhan Pemerasan, Ungkap Fakta Kasus Penggelapan Mobil Rental di Malang

Fenomena ini kemudian memicu perhatian luas terkait kondisi kerja, hak kesehatan reproduksi perempuan, dan perlindungan tenaga kerja di India.

Kasus ini sebenarnya bukan isu baru. Fenomena tersebut telah menjadi sorotan selama beberapa tahun terakhir dan bahkan mendorong pemerintah Maharashtra membentuk tim investigasi khusus untuk menyelidiki tingginya angka histerektomi di wilayah Beed.

Beed dikenal sebagai salah satu daerah pemasok tenaga kerja pemotong tebu terbesar di India. Setiap musim panen, ribuan keluarga bermigrasi ke berbagai wilayah untuk bekerja di perkebunan tebu. Para pekerja umumnya bekerja dalam waktu panjang dengan sistem upah berdasarkan target panen yang harus dipenuhi. Kondisi tersebut membuat banyak buruh berusaha menghindari segala hal yang berpotensi mengurangi hari kerja mereka.

Menurut laporan hasil penyelidikan yang dirilis pada 2019 seperti dilansir dari laman The New Indian Express, lebih dari 13.800 perempuan di Distrik Beed diketahui telah menjalani operasi pengangkatan rahim dalam kurun waktu sekitar satu dekade. Data tersebut diperoleh dari survei terhadap lebih dari 82 ribu perempuan di wilayah tersebut. Sebagian besar yang menjalani operasi berada pada rentang usia 35 hingga 40 tahun, namun ditemukan pula kasus pada perempuan yang berusia di bawah 25 tahun.

Histerektomi sendiri merupakan prosedur medis untuk mengangkat rahim yang biasanya dilakukan pada pasien dengan kondisi tertentu, seperti kanker rahim, fibroid berukuran besar, pendarahan abnormal yang tidak dapat ditangani dengan pengobatan lain, atau gangguan kesehatan reproduksi serius. Namun dalam kasus yang terjadi di Beed, berbagai organisasi perempuan dan aktivis kesehatan menyoroti kemungkinan adanya operasi yang dilakukan tanpa indikasi medis yang kuat.

Laporan berbagai organisasi masyarakat sipil menyebutkan bahwa tekanan ekonomi menjadi salah satu faktor utama yang mendorong para perempuan menjalani operasi tersebut.

Buruh tebu biasanya bekerja berpasangan dengan suami atau anggota keluarga lainnya. Mereka menerima uang muka dari kontraktor sebelum musim panen dimulai dan harus memenuhi target kerja tertentu. Jika tidak mampu bekerja karena sakit atau menstruasi, pendapatan yang diperoleh bisa berkurang dan utang kepada kontraktor menjadi lebih sulit dilunasi.

Baca Juga : 4 Minuman Rempah di Malang yang Cocok Dinikmati Saat Bediding

Selain tekanan pekerjaan, faktor lain seperti kemiskinan, pernikahan usia dini, kurangnya akses terhadap layanan kesehatan reproduksi, minimnya fasilitas sanitasi, hingga rendahnya edukasi kesehatan perempuan turut disebut berkontribusi terhadap tingginya angka histerektomi di wilayah tersebut. Temuan komite penyelidikan Maharashtra juga mencatat bahwa berbagai persoalan sosial tersebut menjadi akar masalah yang harus ditangani secara menyeluruh.

Kasus ini menuai perhatian luas tidak hanya di India, tetapi juga dunia internasional. Banyak pihak mempertanyakan apakah para perempuan tersebut benar-benar memperoleh informasi yang cukup mengenai dampak jangka panjang operasi pengangkatan rahim sebelum mengambil keputusan.

Sejumlah penelitian menunjukkan bahwa histerektomi pada usia relatif muda dapat meningkatkan risiko berbagai masalah kesehatan, termasuk menopause dini, gangguan hormonal, hingga peningkatan risiko penyakit tertentu di kemudian hari. Karena itu, prosedur tersebut seharusnya hanya dilakukan berdasarkan pertimbangan medis yang jelas dan melalui pemeriksaan menyeluruh.

Sorotan terhadap kasus ini kembali menguat dalam beberapa tahun terakhir. Pemerintah Maharashtra bahkan kembali membentuk dan memperluas tim pengawasan untuk menyelidiki praktik histerektomi yang diduga tidak perlu, terutama di kalangan buruh perempuan pemotong tebu. Langkah tersebut dilakukan guna memastikan setiap tindakan operasi dilakukan sesuai standar medis dan tidak dipengaruhi tekanan ekonomi maupun kepentingan tertentu.

Fenomena di Beed menjadi gambaran nyata bagaimana kemiskinan dan kondisi kerja yang berat dapat memengaruhi keputusan besar terkait kesehatan reproduksi perempuan. Banyak aktivis menilai solusi yang dibutuhkan bukanlah pengangkatan rahim, melainkan perbaikan sistem ketenagakerjaan, akses kesehatan yang lebih baik, fasilitas sanitasi yang memadai, serta perlindungan yang lebih kuat bagi pekerja perempuan.


Topik

Peristiwa Pengangkatan Rahim histerektomi wanita India buruh wanita india



JatimTimes Media Terverifikasi Dewan Pers

UPDATE BERITA JATIM TIMES NETWORK

Indonesia Online. Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari JatimTIMES.com dengan klik Langganan Google News Jatimtimes atau bisa menginstall aplikasi Pasuruan Times News melalui Tombol Berikut :


Penulis

Mutmainah J

Editor

Sri Kurnia Mahiruni

Peristiwa

Artikel terkait di Peristiwa