JATIMTIMES - Sebuah video yang diunggah Joya Sarah menarik perhatian warganet setelah menceritakan pengalamannya bertemu dengan seorang perempuan yang diduga sedang mengalami krisis emosional saat melintas di sebuah jembatan Soekarno Hatta, Kota Malang beberapa saat lalu. Alih-alih mengabaikan situasi tersebut, ia memilih menghampiri, menyapa, dan menawarkan bantuan.
Dalam video yang sudah ditonton sebanyak 1,6 juta warganet di Instagram itu, terekam oleh pengendara bahwa Joya tengah memeluk seseorang di jembatan tersebut. Kepada JatimTIMES, Joya menjelaskan bahwa peristiwa itu sebenarnya terjadi pada Jumat sore sekitar pukul 18.00 WIB.
Saat itu ia memutuskan pulang dengan berjalan kaki, padahal biasanya menggunakan transportasi daring. Keputusan yang tampak sederhana itu justru membawanya bertemu seseorang yang menurutnya menunjukkan gelagat tidak biasa.
“Orang yang akan berpapasan dengan aku gerak-geriknya jujur sangat janggal dan kayak anxious (cemas),” kata mahasiswi Universitas Brawijaya ini.
Merasa ada sesuatu yang tidak beres, ia memberanikan diri menyapa perempuan tersebut dengan pertanyaan sederhana. “Aku bertanya, ‘Kak, are you okay?’. Dia kaget karena ternyata dia juga enggak menyangka kalau kondisinya terlihat olehku,” imbuh Joya.
Tak lama setelah disapa, perempuan itu menangis. Joya kemudian menawarkan pelukan untuk menenangkan. Menurut dia, pelukan tersebut membuat perempuan itu semakin meluapkan emosinya. “Begitu aku peluk, dia makin nangis lagi,” tambah Joya.
Setelah situasi mulai lebih tenang, Joya mengaku berhasil mengajak perempuan tersebut menuju sebuah minimarket terdekat agar berada di tempat yang lebih aman dan nyaman. Di sana, ia mengajaknya berbincang dan mendengarkan cerita yang sedang dihadapinya.
Bagi Joya, pengalaman tersebut menjadi pengingat bahwa kepedulian terhadap sesama bisa hadir melalui tindakan sederhana, seperti menyapa, mendengarkan, atau menemani seseorang yang sedang berada dalam masa sulit.
Baca Juga : Jelang Final Piala Dunia 2026 Spanyol vs Argentina, Hati-Hati Godaan Taruhan yang Berujung Dosa
“Aku jadi merefleksikan bahwa waktu Tuhan itu bukan hanya untuk hal-hal yang kita inginkan, tetapi juga untuk hal-hal yang kita butuhkan, bahkan yang dibutuhkan orang lain,” jelasnya.
Kisah ini sekaligus menjadi pengingat akan pentingnya meningkatkan kepedulian terhadap kesehatan mental, baik pada diri sendiri maupun orang-orang di sekitar. Perubahan perilaku yang tampak tidak biasa, ekspresi cemas, atau seseorang yang terlihat kehilangan harapan sebaiknya tidak langsung dihakimi atau diabaikan.
Sapaan yang tulus, kesediaan mendengarkan tanpa menghakimi, hingga membantu menghubungkan dengan keluarga atau layanan profesional dapat menjadi langkah awal yang berarti.
Di akhir videonya, Joya mengajak masyarakat untuk lebih peka terhadap kondisi emosional orang lain. “Aku harap kita bisa benar-benar take action untuk mulai peka, mendengarkan secara empatik, bahkan mungkin memeluk orang-orang di sekitar kita yang sedang membutuhkan,” ungkap dia.
