JATIMTIMES — Inisiatif inspiratif muncul dari sudut Kabupaten Magetan, tepatnya di Desa Duyung, Kecamatan Takeran. Di tengah stigma lansia sebagai kelompok pasif, puluhan warga lanjut usia di sana justru membuktikan sebaliknya. Dengan bangga, mereka mengikuti prosesi wisuda Sekolah Lansia Tangguh (Selantang) Standar 1 Bina Keluarga Lansia (BKL) Arjuna usai menuntaskan program pembelajaran khusus.
Rambut mereka boleh saja telah memutih, namun raut bahagia terpancar jelas saat satu per satu nama mereka dipanggil ke depan lengkap dengan pakaian toga dan samir yang melingkar di dada. Bukan gelar akademis yang mereka kejar, melainkan semangat untuk tetap berdaya, sehat, dan tidak merasa terasing di usia senja.
Baca Juga : Gelar Program Bunga Desaku, Bupati Jember Sosialisasikan Program Home Care
Di dalam kelas Selantang BKL Arjuna, pola belajar disusun tidak kaku. Para lansia tidak dituntut menghafal teori, melainkan diajak memahami perubahan tubuh dan mental yang mereka alami sehari-hari.
Mulai dari pemenuhan gizi masa tua, pencegahan penyakit kronis, latihan fisik ringan, hingga pengelolaan emosi menjadi menu wajib yang dipelajari secara interaktif.
Kepala Dinas Pengendalian Penduduk, Keluarga Berencana, Pemberdayaan Perempuan, dan Perlindungan Anak (DPPKBPPPA) Kabupaten Magetan, Sukartini,menyampaikan rasa bangganya melihat para lansia begitu bersemangat mengikuti proses pembelajaran sampai dengan wisuda, dia berharap setelah Standar 1 ini, akan segera menyusul Program Standar 2, agar proses pembelajaran ini bisa berkelanjutan
Sabar (76), peserta wisuda tertua, menceritakan bagaimana kegiatan ini mengubah rutinitas hariannya yang semula menjenuhkan.
"Kalau cuma di rumah kadang bingung mau mengusir sepi, akhirnya malah gampang lemas dan pikiran ke mana-mana. Di sini ketemu banyak teman, diajari cara atur makan, dan rutin bergerak. Rasanya jadi lebih segar," kata Sabar usai prosesi wisuda.
Interaksi antarteman sebaya di sekolah ini terbukti menjadi ruang sosial yang ampuh mengikis rasa kesepian, hal yang sering kali menjadi pemicu menurunnya kesehatan lansia.
Namun, mengajar kelompok usia lanjut ini memiliki tantangan tersendiri, terutama terkait daya ingat yang mulai menurun. Fenomena ini diakui secara jujur oleh salah satu peserta wisuda dengan analogi yang unik.
"Pembelajaran di Selantang ini ibarat mengukir di atas air,apa yang sudah dosen ajarkan kepada kami, akhirnya kami lupa lagi," ujar Waimin perwakilan peserta wisuda
Baca Juga : Monitoring Tim SPIP Kemenag Perkuat Langkah MAN 1 Kota Malang Wujudkan Zona Integritas Menuju WBK
Meskipun demikian, semangat para lansia untuk terus belajar dan terhubung secara sosial tetap menjadi fokus utama, di mana proses dan interaksi antarteman sebaya dianggap sama pentingnya dengan materi yang diajarkan.
Kehadiran Selantang di Desa Duyung menjadi salah satu potret gerakan pemberdayaan lansia aktif (active ageing) berbasis masyarakat. Pendekatannya bergeser, tak lagi menempatkan lansia semata sebagai penikmat layanan kesehatan, tetapi sebagai subjek yang mandiri.
Pengalaman hidup dan latar belakang profesi para peserta yang bervariasi justru menjadi warna tersendiri dalam ruang diskusi kelas, saling melengkapi satu sama lain.
Momen wisuda Selantang ini bukan penanda berakhirnya proses belajar bagi para lansia di Desa Duyung. Setelah mengantongi ijazah Standar 1, para wisudawan diproyeksikan dapat melanjutkan pembelajaran ke jenjang berikutnya guna memperdalam materi kesehatan holistik dan keterampilan hidup di usia lanjut.
Di balik toga hitam dan tawa hangat yang tersisa di balai desa, para kakek dan nenek ini telah memberi pelajaran berharga bagi generasi muda: bahwa belajar tidak mengenal batas usia, dan masa tua bisa dilalui dengan penuh martabat, kebahagiaan, serta kebersamaan.
