Jatim Times Network Logo
Poling Pilkada 2024 Agama Ekonomi Gaya Hukum dan Kriminalitas Kesehatan Kuliner Olahraga Opini Otomotif Pemerintahan Pendidikan Peristiwa Politik Profil Ruang Mahasiswa Ruang Sastra Selebriti Tekno Transportasi Wisata
Poling Pilkada 2024
Peristiwa

El Nino Godzilla Bikin Indonesia Waspada Karhutla, Sebenarnya Apa Fenomena Ini?

Penulis : Mutmainah J - Editor : Yunan Helmy

21 - Aug - 2026, 11:05

Placeholder
Kebakaran hutan. (Foto: iStock)

JATIMTIMES - Istilah El Nino Godzilla kembali menjadi perhatian setelah Menteri Kehutanan (Menhut) Raja Juli Antoni mengingatkan masyarakat untuk mewaspadai potensi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Indonesia.

Menurut Antoni, kondisi El Nino pada 2026 perlu mendapat perhatian serius karena kekuatannya diperkirakan menyerupai fenomena El Nino pada 2015. Saat itu, Indonesia menghadapi karhutla dalam skala besar yang berdampak pada lingkungan hingga aktivitas masyarakat.

Baca Juga : Belum Jago Makeup? 3 Prioritas Ini Bikin Penampilan Tetap Terlihat Cakep meski Dandan Minimalis

"Kita benar-benar harus waspada soal karhutla tahun ini. Laporan BMKG Agustus-Oktober adalah El Nino sangat kuat. Sering disebut El Nino Godzilla, meskipun ini bukan terminologi baku," kata Antoni pada 10 Agustus 2026.

Ia juga mengingatkan kembali dampak karhutla besar yang terjadi pada 2015. Ketika itu, sekitar 2,6 juta hektare hutan dan lahan disebut terbakar.

"Seperti diketahui pada tahun 2015, sebanyak 2,6 juta hektare hutan dan lahan terbakar, tutup bandara. Pasar, pusat dunia dan sekolah tutup. Rumah sakit penuh oleh masyarakat yang terserang infeksi saluran pernapasan akut (ISPA)," ujarnya.

Lantas, apa sebenarnya yang dimaksud dengan El Nino Godzilla? Berikut penjelasannya. 

El Nino Godzilla bukan nama resmi dalam istilah klimatologi. Sebutan tersebut digunakan untuk menggambarkan fenomena El Nino yang memiliki intensitas sangat kuat.

Istilah ini populer pada 2015 dan disebut pertama digunakan oleh ahli klimatologi NASA, Bill Patzert. Saat itu, istilah tersebut dipakai untuk menggambarkan El Nino yang diperkirakan menjadi salah satu fenomena terkuat sejak pencatatan dimulai pada 1950.

Dikutip dari ABC, sebutan El Nino Godzilla bukan istilah teknis atau kategori ilmiah. Istilah tersebut lebih merupakan gambaran untuk menunjukkan betapa kuatnya El Nino yang terjadi pada periode tersebut.

Secara umum, El Nino merupakan fenomena meningkatnya suhu permukaan laut di wilayah ekuator Samudra Pasifik bagian tengah dan timur. Perubahan tersebut dapat memengaruhi pola cuaca di berbagai wilayah dunia, termasuk Indonesia.

Bagi Indonesia, El Nino umumnya berkaitan dengan kondisi yang lebih kering. Curah hujan dapat berkurang sehingga musim kemarau berpotensi menjadi lebih panjang dan intens.

Kondisi yang lebih panas dan kering dapat membuat vegetasi, lahan gambut, serta material mudah terbakar menjadi lebih kering.

Ketika terjadi kebakaran, kondisi cuaca yang kering juga dapat membuat api lebih sulit dikendalikan dan meningkatkan risiko kebakaran meluas.

Dampaknya bukan hanya kerusakan hutan dan lahan. Asap dari karhutla dapat menurunkan kualitas udara dan meningkatkan risiko gangguan kesehatan, termasuk infeksi saluran pernapasan akut (ISPA).

Baca Juga : Asap Karhutla Kalimantan Mulai Ancam Kesehatan, Ini 6 Cara Sederhana Cegah ISPA

Selain itu, kabut asap dalam jumlah besar dapat mengganggu aktivitas masyarakat, transportasi, pendidikan hingga penerbangan.

Meski istilah El Nino Godzilla kembali digunakan untuk menggambarkan kondisi El Nino yang sangat kuat, BMKG menegaskan bahwa sebutan tersebut tidak termasuk terminologi resmi dalam klimatologi.

Deputi Bidang Klimatologi BMKG Ardhasena Sopaheluwakan menyebut istilah tersebut cenderung bersifat hiperbolis. "Istilah El Nino Godzilla tidak ada dalam khasanah klimatologi yang resmi di dunia dan cenderung hiperbolis. Kategori El Nino hanya El Nino lemah, sedang dan kuat," ujar Ardhasena, dikutip dari CNN Indonesia, Jumat (21/8/2026).

Dengan demikian, penggunaan istilah Godzilla lebih tepat dipahami sebagai istilah populer untuk menggambarkan El Nino dengan kekuatan luar biasa, bukan sebagai kategori baru dalam sistem klasifikasi ilmiah.

Pemantauan BMKG pada Dasarian I Agustus 2026 menunjukkan kondisi El Nino berada pada intensitas yang sangat kuat.

Indeks SSTA di wilayah Nino 3.4 tercatat mencapai +2,77 secara dasarian. Pada periode yang sama, indeks Indian Ocean Dipole (IOD) tercatat +0,457, yang menunjukkan IOD berada dalam fase positif.

Kombinasi kondisi tersebut dapat mendukung berkurangnya curah hujan di sejumlah wilayah Indonesia.

Kondisi kering inilah yang kemudian menjadi salah satu faktor yang perlu diwaspadai dalam menghadapi potensi karhutla. Meski demikian, terjadinya kebakaran tidak semata-mata disebabkan oleh El Nino karena faktor lain, termasuk aktivitas manusia dan kondisi lahan, juga berpengaruh.

Karena itu, kewaspadaan terhadap karhutla selama periode kemarau menjadi penting, terutama di wilayah yang memiliki lahan gambut dan vegetasi yang mudah terbakar.


Topik

Peristiwa Godzilla El Nino El Nino kebakaran hutan karhutla



JatimTimes Media Terverifikasi Dewan Pers

UPDATE BERITA JATIM TIMES NETWORK

Indonesia Online. Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari JatimTIMES.com dengan klik Langganan Google News Jatimtimes atau bisa menginstall aplikasi Pasuruan Times News melalui Tombol Berikut :


Penulis

Mutmainah J

Editor

Yunan Helmy