Jatim Times Network Logo
Poling Pilkada 2024 Agama Ekonomi Gaya Hukum dan Kriminalitas Kesehatan Kuliner Olahraga Opini Otomotif Pemerintahan Pendidikan Peristiwa Politik Profil Ruang Mahasiswa Ruang Sastra Selebriti Tekno Transportasi Wisata
Poling Pilkada 2024
Pendidikan

Karya Inovatif Dosen Kimia UB Masuk 117 Inovasi Indonesia 2025, Bisa Deteksi Dini Hipotiroid pada Bayi

Penulis : Binti Nikmatur - Editor : Nurlayla Ratri

05 - Mar - 2026, 14:50

Placeholder
Prof. Dr. Aulanni’am bersama tim peneliti multidisiplin dari berbagai bidang keilmuan di UB. (Foto: istimewa)

JATIMTIMES - Prestasi kembali ditorehkan akademisi dari Universitas Brawijaya (UB). Inovasi yang dikembangkan tim peneliti kampus tersebut berhasil masuk dalam daftar “117 Inovasi Indonesia 2025”, sebuah program nasional yang menjaring karya inovatif dari berbagai peneliti, akademisi, hingga praktisi di Indonesia.

Program ini diselenggarakan oleh Business Innovation Center (BIC) sebagai bentuk apresiasi terhadap inovasi yang dinilai memiliki potensi besar untuk memberikan dampak bagi masyarakat.

Baca Juga : Ujian Digital di SMPN 1 Malang Kini Lebih Aman Lewat ADIPATI

Inovasi dari UB tersebut berjudul “Deteksi Dini Hipotiroid Kongenital (HK) Berbasis Antibodi Poliklonal Hasil Induksi Protein Rekombinan human Thyroid Stimulating Hormone (hTSH) dengan Metode ELISA.”

Penelitian ini mengembangkan metode deteksi dini yang lebih sensitif dan spesifik terhadap hipotiroid kongenital, yaitu gangguan hormon tiroid yang sudah terjadi sejak bayi lahir. Jika tidak terdeteksi sejak awal, kondisi ini dapat memicu keterlambatan pertumbuhan fisik maupun perkembangan intelektual anak.

Inovasi tersebut dipimpin oleh Prof. Dr. Aulanni’am bersama tim peneliti multidisiplin dari berbagai bidang keilmuan di UB.

Deteksi Dini Hipotiroid Kongenital (HK) Berbasis Antibodi Poliklonal Hasil Induksi Protein Rekombinan human Thyroid Stimulating Hormone (hTSH) dengan Metode ELISA. (Foto: istimewa)

Deteksi Dini Hipotiroid Kongenital (HK) Berbasis Antibodi Poliklonal Hasil Induksi Protein Rekombinan human Thyroid Stimulating Hormone (hTSH) dengan Metode ELISA. (Foto: istimewa)

Menurut Prof. Aulanni’am, penelitian ini berfokus pada pengembangan sistem deteksi berbasis antibodi poliklonal yang dihasilkan dari induksi protein rekombinan human Thyroid Stimulating Hormone (hTSH).

Antibodi tersebut kemudian dimanfaatkan dalam sistem analisis berbasis metode Enzyme Linked Immunosorbent Assay (ELISA) untuk mendeteksi biomarker yang berkaitan dengan gangguan hormon tiroid pada bayi.

“Hipotiroid kongenital merupakan salah satu gangguan endokrin yang perlu dideteksi sedini mungkin karena dapat memengaruhi perkembangan fisik dan kognitif anak. Melalui inovasi ini, kami berupaya mengembangkan metode deteksi yang lebih akurat dan berpotensi mendukung program skrining kesehatan bayi di Indonesia,” jelas Prof. Aulanni'am.

Ia menambahkan, teknologi berbasis protein rekombinan ini diharapkan menjadi langkah awal dalam pengembangan kit diagnostik biomedis berbasis riset dalam negeri.

“Pengembangan teknologi berbasis protein rekombinan ini diharapkan dapat menjadi langkah awal menuju pengembangan kit diagnostik biomedis berbasis riset dalam negeri yang lebih terjangkau dan dapat diaplikasikan secara luas di fasilitas kesehatan,” lanjutnya.

Inovasi ini dikerjakan oleh tim peneliti lintas disiplin yang melibatkan berbagai pakar di bidang kimia, kedokteran, hingga kesehatan masyarakat.

Tim tersebut terdiri dari Prof. Dr. Aulanni'am, drh., DES; Dr. Dyah Kinasih Wuragil, S.Si., MP., M.Sc; Prof. Dr. dr. Achmad Rudijanto, Sp.PD-KEMD; dr. Rulli Rosandi, Sp.PD-KEMD; dr. Andreas Budi Wijaya, M.Biomed, Sp.A; Almas Dwi Khairana, S.Si., M.Si; Wibi Riawan, S.Si., M.Biomed; Dr. rer.pol. Romy Hermawan, S.Sos., M.AP; Prof. Akhmad Sabarudin, S.Si., M.Sc., Dr.Sc; Muhammad Fikri Nur, S.Si; Assoc. Prof. Anna Safitri, S.Si., M.Sc., Ph.D; serta Dr. dr. Zulkarnain, M.Sc., AIFO-K.

Kolaborasi lintas bidang ini dinilai menjadi salah satu kekuatan utama dalam pengembangan inovasi tersebut.

Baca Juga : Kabid Pendma Jatim Apresiasi Seleksi Humanis MIN 1 Kota Malang, 723 Pendaftar Rebutkan 252 Kursi

Program “117 Inovasi Indonesia 2025” sendiri merupakan agenda tahunan yang bertujuan mengidentifikasi serta mempromosikan inovasi terbaik di Indonesia. Pada tahun ini, proses penjurian dilakukan dalam dua tahap. Setiap proposal inovasi dinilai oleh tiga juri independen selama Januari 2026 melalui proses evaluasi daring.

Dari 182 proposal inovasi yang diajukan sepanjang 2025, hanya 55 proposal yang berhasil lolos ke tahap seleksi lanjutan. Setelah melalui penilaian akhir, 51 proposal akhirnya ditetapkan sebagai inovasi terpilih dalam program tersebut.

Masuknya inovasi UB dalam daftar tersebut menunjukkan kualitas riset yang dinilai memiliki potensi untuk dikembangkan lebih lanjut hingga tahap implementasi.

Ketua Departemen Kimia FMIPA Universitas Brawijaya, Assoc. Prof. Anna Safitri, S.Si., M.Sc., Ph.D, menyampaikan apresiasi atas keberhasilan tim peneliti UB dalam ajang inovasi nasional tersebut.

Menurutnya, capaian ini menegaskan bahwa riset di Departemen Kimia UB tidak hanya berfokus pada pengembangan ilmu dasar, tetapi juga menghasilkan inovasi yang berdampak langsung pada sektor kesehatan.

“Keberhasilan inovasi ini menjadi bukti bahwa riset di Departemen Kimia Universitas Brawijaya tidak hanya berkontribusi pada pengembangan ilmu dasar, tetapi juga mampu menghasilkan inovasi yang berdampak langsung pada bidang kesehatan. Kami berharap inovasi ini dapat terus dikembangkan hingga tahap hilirisasi sehingga manfaatnya dapat dirasakan oleh masyarakat luas,” ujarnya.

Ia berharap inovasi tersebut dapat terus dikembangkan hingga tahap produksi dan pemanfaatan secara luas di fasilitas layanan kesehatan. Masuknya inovasi UB dalam “117 Inovasi Indonesia 2025” juga memperkuat posisi kampus sebagai salah satu perguruan tinggi yang aktif menghasilkan inovasi berbasis riset.

Tak hanya di bidang pendidikan, hasil riset ini diharapkan mampu memberikan kontribusi nyata bagi pengembangan teknologi kesehatan dan peningkatan kesejahteraan masyarakat.

Selain itu, keberhasilan ini juga menjadi bagian dari upaya memperkuat ekosistem inovasi nasional, sekaligus mendorong pengembangan produk diagnostik kesehatan berbasis penelitian dalam negeri.


Topik

Pendidikan fmipa ub departemen kimia universitas btawijaya inovasi indonesia penelitian dosen



JatimTimes Media Terverifikasi Dewan Pers

UPDATE BERITA JATIM TIMES NETWORK

Indonesia Online. Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari JatimTIMES.com dengan klik Langganan Google News Jatimtimes atau bisa menginstall aplikasi Pasuruan Times News melalui Tombol Berikut :


Penulis

Binti Nikmatur

Editor

Nurlayla Ratri

Pendidikan

Artikel terkait di Pendidikan