Jatim Times Network Logo
Poling Pilkada 2024 Agama Ekonomi Gaya Hukum dan Kriminalitas Kesehatan Kuliner Olahraga Opini Otomotif Pemerintahan Pendidikan Peristiwa Politik Profil Ruang Mahasiswa Ruang Sastra Selebriti Tekno Transportasi Wisata
Poling Pilkada 2024
Peristiwa

Dunia Alami Panic Buying BBM, dari Korsel hingga Indonesia Antre Panjang di SPBU Gegara Perang Iran

Penulis : Binti Nikmatur - Editor : Sri Kurnia Mahiruni

06 - Mar - 2026, 08:59

Placeholder
Puluhan mobil mengantre di SPBU Korea Selatan. (Foto: REUTERS/ Kim Hong-Ji)

JATIMTIMES - Ketegangan geopolitik akibat perang Iran yang melibatkan Amerika Serikat dan Israel mulai memicu dampak ke berbagai negara. Salah satunya terlihat dari fenomena panic buying bahan bakar minyak (BBM) yang terjadi di sejumlah negara, mulai dari Korea Selatan hingga Indonesia.

Lonjakan harga minyak dunia dan kekhawatiran terganggunya pasokan energi global membuat warga di berbagai negara berbondong-bondong datang ke stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU) untuk mengisi tangki kendaraan mereka.

Baca Juga : Konflik As-Israel dan Iran Memanas, Pertamina Patra Niaga Pastikan Stok dan Distribusi BBM Aman di Jatimbalinus

Dilansir Reuters, antrean kendaraan terlihat panjang di sejumlah SPBU di Seoul, Korea Selatan, pada Rabu (4/3/2026). Warga mendatangi SPBU untuk mengisi bahan bakar lebih awal karena khawatir harga minyak akan terus naik dalam beberapa hari ke depan.

Bagi sebagian warga, keputusan mengisi bahan bakar saat ini dianggap langkah antisipasi sebelum harga melonjak lebih tinggi.

“Saya merasa hari ini mungkin harga bahan bakar termurah untuk sementara waktu, jadi saya datang untuk mengisi tangki saya,” kata Shin Yong-in (70).

Ia menilai situasi saat ini terasa berbeda dibandingkan ketika perang Rusia-Ukraina terjadi. Kekhawatiran meningkat setelah muncul laporan bahwa Iran memblokir Selat Hormuz, jalur strategis yang menjadi salah satu rute utama distribusi energi dunia.

Meski belum sampai pada tahap pembelian panik besar-besaran, operator SPBU di Korea Selatan mengakui antrean kendaraan memang lebih panjang dibanding hari biasanya.

Salah satu warga lain, Lee Kang-suk (72), mengatakan ketergantungan Korea Selatan terhadap impor minyak membuat masyarakat semakin cemas. “Kami tidak memproduksi minyak sendiri, dan situasi internasional semakin serius setiap hari,” ujarnya.

Kekhawatiran masyarakat juga diperparah oleh pelemahan mata uang won terhadap dolar AS. Mata uang Korea Selatan sempat melemah hingga melewati level 1.500 per dolar AS untuk pertama kalinya dalam 17 tahun, sebelum akhirnya kembali stabil setelah bank sentral memberi sinyal akan meredam volatilitas pasar.

Fenomena antrean panjang di SPBU tidak hanya terjadi di Korea Selatan. Situasi serupa juga dilaporkan di Sri Lanka.

Warga di negara tersebut ramai-ramai mendatangi SPBU untuk membeli BBM meskipun pemerintah telah memastikan stok bahan bakar masih cukup.

Pemerintah Sri Lanka menyebut cadangan diesel saat ini masih cukup untuk 35 hari, sementara bensin tersedia untuk sekitar 37 hari ke depan. Namun kekhawatiran masyarakat tetap memicu antrean panjang di sejumlah SPBU.

"Ada bahan bakar. Orang-orang panik karena perang dan mereka sendiri yang menciptakan antrean ini," kata Mohammed Aslem, pengemudi bajaj di Kolombo, kepada Reuters, dikutip Jumat (6/3/2026). 

Untuk mencegah penimbunan, polisi setempat bahkan melarang masyarakat mengisi bahan bakar ke dalam jeriken dan memperingatkan akan menindak praktik penimbunan.

Pemerintah Australia juga ikut mengantisipasi potensi panic buying. Menteri Energi Australia, Chris Bowen, meminta masyarakat tetap tenang dan tidak berbondong-bondong mengisi bahan bakar.

Menurut Bowen, cadangan energi Australia saat ini berada di level tertinggi dalam lebih dari satu dekade. "Tidak perlu terburu-buru ke SPBU dan mengisi penuh," kata Bowen.

Ia menyebut stok yang tersedia meliputi sekitar 6 hari cadangan bensin, 34 hari diesel, serta 32 hari bahan bakar jet.
Selain itu, pemerintah Australia juga memperingatkan akan menindak praktik menaikkan harga secara berlebihan atau price gouging di tengah lonjakan harga minyak global.

Dampak kekhawatiran terhadap pasokan energi juga terasa di Eropa.
Di Inggris, antrean kendaraan bahkan dilaporkan mencapai hingga 90 mobil di beberapa SPBU di London, Manchester, dan Liverpool.

Mengutip NDTV, lonjakan harga minyak hingga 13 persen dipicu kekhawatiran gangguan distribusi energi di Selat Hormuz.

Meski demikian, juru bicara Perdana Menteri Inggris menegaskan bahwa sejauh ini belum ada gangguan terhadap pasokan BBM domestik.
Pemerintah Inggris disebut terus memantau perkembangan situasi global secara ketat.

Baca Juga : Panic Buying BBM, Bupati Jember Jamin Stok Aman dan Instruksikan Pengawasan Ketat Potensi Penimbunan

Di Jerman, fenomena panic buying juga mulai terlihat seiring kenaikan harga bensin.

Juru bicara Asosiasi SPBU Jerman, Herbert Rabl, mengatakan kekhawatiran masyarakat menjadi pemicu antrean panjang di berbagai SPBU.

"Antrean panjang terlihat di SPBU di seluruh Jerman. Semua orang khawatir," ujarnya dikutip News AM.

Harga bensin jenis Super E10 di Jerman tercatat naik dari €1,780 per liter pada Jumat menjadi €1,830 pada Senin. Klub otomotif ADAC memperkirakan harga masih berpotensi naik dalam waktu dekat.

Antrean panjang pengisian bensin di Sumatera Utara. (Foto: Facebook)

Antrean panjang pengisian bensin di Sumatera Utara. (Foto: Facebook)

Dampak kepanikan juga mulai terasa di Indonesia. Sejumlah daerah dilaporkan mengalami antrean panjang di SPBU akibat kekhawatiran masyarakat terkait ketersediaan BBM. Di Kota Medan, misalnya, warga menyerbu SPBU pada Kamis (5/3/2026) malam.

Masyarakat berbondong-bondong mengisi bahan bakar setelah beredar kabar bahwa stok BBM nasional hanya cukup untuk sekitar tiga pekan.

Isu tersebut menyebut stok BBM Indonesia tinggal sekitar 21 hari, meskipun belum ada kepastian mengenai kebenaran informasi tersebut.

Kondisi serupa juga terlihat di Kabupaten Jember, Jawa Timur. Antrean kendaraan di sejumlah SPBU bahkan mencapai sekitar 100 meter dan meluber hingga ke badan jalan.

Antrean panjang itu terjadi di beberapa SPBU, antara lain SPBU Sabtuan Tegal Besar, SPBU Teuku Umar Tegal Besar, serta SPBU di Jalan Gajah Mada. Situasi tersebut sempat memicu kemacetan di sejumlah ruas jalan di sekitar SPBU.

Adapun panic buying yang terjadi di Indonesia salah satunya dipicu oleh pernyataan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia yang menyebut cadangan BBM nasional cukup untuk memenuhi kebutuhan sekitar 20 hari. "Masih cukup 20 hari," kata Bahlil pada Senin (2/3).

Sebelumnya diberitakan, sejumlah analis memperingatkan bahwa konflik Iran yang berkepanjangan berpotensi memicu lonjakan harga minyak global.

Jika ketegangan terus meningkat, terutama bila Selat Hormuz benar-benar terganggu, harga minyak mentah Brent diperkirakan bisa menembus 100 dolar AS per barel.

Harga Brent sendiri telah melonjak lebih dari 7 persen pada Selasa lalu dan mencapai level tertinggi sejak Juli 2024.

Kenaikan harga energi tersebut dinilai berisiko menekan inflasi dan memperlambat pertumbuhan ekonomi, terutama di negara berkembang.

Goldman Sachs memperkirakan kenaikan harga Brent dari 70 dolar AS menjadi 85 dolar AS per barel dapat menambah sekitar 0,7 poin persentase inflasi di kawasan Asia berkembang. Pada saat yang sama, pertumbuhan ekonomi kawasan berpotensi turun sekitar 0,5 poin persentase.


Topik

Peristiwa Dunia amerika israel iran Panic Buying BBM panic buying BBM Korsel SPBU Perang Iran



JatimTimes Media Terverifikasi Dewan Pers

UPDATE BERITA JATIM TIMES NETWORK

Indonesia Online. Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari JatimTIMES.com dengan klik Langganan Google News Jatimtimes atau bisa menginstall aplikasi Pasuruan Times News melalui Tombol Berikut :


Penulis

Binti Nikmatur

Editor

Sri Kurnia Mahiruni

Peristiwa

Artikel terkait di Peristiwa