Jatim Times Network Logo
Poling Pilkada 2024 Agama Ekonomi Gaya Hukum dan Kriminalitas Kesehatan Kuliner Olahraga Opini Otomotif Pemerintahan Pendidikan Peristiwa Politik Profil Ruang Mahasiswa Ruang Sastra Selebriti Tekno Transportasi Wisata
Poling Pilkada 2024
Pendidikan

AI Makin Canggih, Guru Besar Matematika FSTeM UB: Nalar Matematis Tetap Jadi Keunggulan Manusia

Penulis : Anggara Sudiongko - Editor : A Yahya

21 - May - 2026, 18:24

Placeholder
Guru Besar Departemen Matematika Fakultas Sains, Teknologi dan Matematika (FSTeM) Universitas Brawijaya (UB), Prof. Dr. Agus Suryanto (Anggara Sudiongko/JatimTIMES)

JATIMTIMES - Di tengah perkembangan Artificial Intelligence (AI) yang semakin agresif memasuki berbagai sektor kehidupan, muncul kekhawatiran baru mengenai posisi manusia di masa depan. Ketika mesin mampu menulis, menganalisis data, menerjemahkan bahasa, hingga mengambil keputusan berbasis algoritma dalam hitungan detik, banyak pihak mulai mempertanyakan apakah kemampuan intelektual manusia perlahan akan tergeser. Dalam situasi itu, matematika justru dinilai tetap menjadi salah satu keunggulan mendasar manusia yang tidak dapat digantikan sepenuhnya oleh kecerdasan buatan.

Pandangan tersebut disampaikan Guru Besar Departemen Matematika Fakultas Sains, Teknologi dan Matematika (FSTeM) Universitas Brawijaya (UB), Prof. Dr. Agus Suryanto dalam kegiatan Ngopi Sam FSTeM, Kamis, (21/6/2026). Ia menegaskan bahwa AI yang hari ini dianggap sebagai teknologi paling mutakhir sesungguhnya berdiri di atas fondasi matematika yang dibangun manusia selama puluhan bahkan ratusan tahun.

Baca Juga : Ingatkan Efek Jera, DPRD Jatim Sesalkan Kasus Pencabulan Anak Berakhir Damai

“AI itu sebenarnya dibangun oleh matematika. Semuanya berangkat dari algoritma. Bagaimana mencari data dengan cepat, mengelola data, sampai muncul AI itu, semuanya berasal dari matematika,” ujarnya.

Pernyataan tersebut menjadi penting di tengah meningkatnya ketergantungan manusia terhadap teknologi berbasis AI. Dalam beberapa tahun terakhir, AI berkembang bukan hanya sebagai alat bantu, melainkan mulai mengambil sebagian fungsi berpikir manusia. Sistem otomatis kini mampu menyusun laporan, membaca pola perilaku konsumen, memprediksi pasar, hingga menghasilkan simulasi yang sebelumnya membutuhkan tenaga manusia dalam jumlah besar.

Namun, menurut Prof Agus, terdapat kesalahpahaman besar ketika AI dianggap mampu sepenuhnya menggantikan manusia. Ia menilai kemampuan AI pada dasarnya masih bertumpu pada pola-pola yang telah tersedia dan data yang sudah ada sebelumnya. Mesin bekerja melalui proses pengolahan informasi berdasarkan algoritma yang dirancang manusia, bukan melalui kesadaran berpikir seperti manusia.

Karena itu, ketika AI dihadapkan pada persoalan baru yang belum memiliki pola, keterbatasannya mulai terlihat. Dalam konteks tersebut, matematika menjadi penting bukan hanya sebagai alat hitung, melainkan sebagai cara berpikir untuk membangun model dan solusi baru.

“Kalau ada problem baru, AI tidak bisa mengadakan informasi yang benar-benar baru secara sempurna. Mungkin AI memberi jawaban, tetapi belum tentu sempurna. Di situlah proses berpikir matematika diperlukan untuk mengembangkan model baru,” katanya.

Menurutnya, inti utama matematika bukan terletak pada angka semata, melainkan pada disiplin berpikir. Matematika melatih manusia menyusun logika secara runtut, membangun argumentasi berbasis struktur, membaca hubungan sebab-akibat, hingga menyelesaikan persoalan melalui tahapan yang sistematis dan terukur.

Kemampuan tersebut dinilai menjadi pembeda mendasar antara manusia dan AI. Mesin dapat mengolah data dalam skala besar dengan kecepatan tinggi, tetapi manusia memiliki kemampuan untuk mempertanyakan, merumuskan ulang persoalan, serta menciptakan pendekatan baru ketika pola lama tidak lagi relevan.

Prof Agus menilai, kemampuan berpikir matematis justru akan semakin penting di masa depan ketika teknologi berkembang semakin kompleks. Sebab, di balik seluruh sistem AI yang saat ini digunakan dunia, tetap ada manusia yang merancang logika, menyusun algoritma, dan menentukan arah pengembangannya.

“Matematika tidak akan tergantikan oleh AI. Bahkan matematika bisa memajukan AI,” tegasnya.

Ia juga menyoroti kecenderungan penggunaan AI di lingkungan pendidikan yang mulai bergeser dari alat bantu belajar menjadi alat pencari jawaban instan. Menurutnya, situasi tersebut dapat menjadi ancaman serius apabila manusia kehilangan proses berpikir kritis dan hanya bergantung pada hasil akhir yang diberikan mesin.

“AI seharusnya menjadi alat untuk belajar, bukan sekadar alat mendapatkan jawaban. Harus dipahami proses berpikirnya, mana yang benar dan salah,” ujarnya.

Baca Juga : 10 Jurusan Kuliah yang Mulai Ditinggalkan di Era Al, Harvard Ungkap Daftarnya

Dalam pandangannya, bahaya terbesar dari perkembangan AI bukanlah kecanggihan teknologinya, melainkan ketika manusia berhenti melatih kemampuan berpikirnya sendiri. Sebab, matematika pada dasarnya membangun ketelitian, konsistensi logika, kemampuan analisis, hingga daya tahan dalam menyelesaikan persoalan yang kompleks.

Ia menjelaskan bahwa dalam matematika, seseorang tidak hanya dituntut memperoleh jawaban benar, tetapi juga memahami proses bagaimana jawaban itu dibangun. Proses inilah yang menurutnya tidak bisa sepenuhnya digantikan AI.

Mesin dapat menghasilkan solusi cepat, tetapi manusia tetap diperlukan untuk menguji relevansi, menilai konteks, serta memahami konsekuensi dari setiap keputusan yang dihasilkan teknologi. Dalam banyak kasus, AI hanya bekerja berdasarkan probabilitas dan pola statistik, sementara manusia mampu mempertimbangkan dimensi yang lebih luas, termasuk aspek etika, intuisi, dan kreativitas.

Prof Agus menilai, perkembangan AI justru memperlihatkan bahwa manusia dengan kemampuan berpikir matematis akan semakin dibutuhkan. Ketika dunia dipenuhi sistem otomatis, manusia yang mampu memahami logika di balik teknologi akan memiliki posisi strategis sebagai pengendali, bukan sekadar pengguna.

Ia juga menegaskan bahwa matematika selama ini sering dipahami terlalu sempit sebagai pelajaran rumit yang identik dengan angka. Padahal, kekuatan utama matematika terletak pada kemampuannya membentuk pola pikir yang disiplin dan sistematis.

Di era AI, kemampuan semacam itu menjadi semakin relevan karena manusia dituntut tidak hanya mampu menggunakan teknologi, tetapi juga memahami cara kerja, kelemahan, dan batasannya.

“Ketika ada sesuatu yang benar-benar baru, di situlah manusia diperlukan. AI bisa membantu, tetapi proses berpikir untuk menciptakan model baru tetap berasal dari manusia,” katanya.

Bagi Prof Agus, masa depan bukanlah pertarungan antara manusia dan AI, melainkan tentang bagaimana manusia mempertahankan kemampuan berpikir mendalam di tengah kemudahan teknologi yang serba instan. Dalam konteks itu, matematika tetap menjadi salah satu fondasi terpenting yang menjaga manusia tidak kehilangan kemampuan bernalar di era kecerdasan buatan.


Topik

Pendidikan ai artificial intelligence agus suryanto algoritma ub



JatimTimes Media Terverifikasi Dewan Pers

UPDATE BERITA JATIM TIMES NETWORK

Indonesia Online. Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari JatimTIMES.com dengan klik Langganan Google News Jatimtimes atau bisa menginstall aplikasi Pasuruan Times News melalui Tombol Berikut :


Penulis

Anggara Sudiongko

Editor

A Yahya

Pendidikan

Artikel terkait di Pendidikan